Polman, Identitas.co.id – Emy Rahayu, Cucu perempuan almarhum Abdul Rahman bin Kaco Bolong (73) jamaah haji yang meninggal di tanah suci pada Sabtu 22 Juni lalu, mengaku memimpikan kakeknya sebelum mendapat kabar duka.

Emi Sri Rahayu mendapatkan firasat dua hari sebelum kematian kakeknya, Sri Rahayu sempat memimpikan melihat kakeknya naik mobil berwarna merah lalu kakeknya menangis. Dan pada malam kematiannya ia kembali bermimpi melihat kakeknya menangis lagi.

“Tadi malam itu saya mimpi lagi melihat kakek menangis lalu saya peluk. pas saya bangun tidur lalu mendapatkan kabar duka dari salah seorang wartawan dan pihak keluarga” kata Emy Sri Rahayu.

Jamaah lansia itu merupakan warga Dusun Lamungan, desa Kurma, kecamatan Mapilli, yang tergabung dalam kloter 9 embarkasi Makassar dengan Nomor paspor C9909869, nomor porsi 3800020584, rombongan 8 regu 32 yang berangkat pada tanggal 17 Mei 2024 lalu.

Abdul Rahman berangkat ketanah suci bersama saudaranya, selama di tanah suci jamaah lansia itu di jaga dan dirawat oleh saudaranya.

Berbeda dengan Emy, Cucu laki-laki almarhum Irsan, mengaku justru tidak memiliki tanda-tanda atau firasat.

Hanya yang membuat pihak keluarga sempat syok dan sedih karena almarhum meninggal dunia di saat rombongan kloter 9 akan kembali pulang ke tanah air pada pekan depan sekitar tanggal 29 juni.

“Padahal sudah mau pulang kasihan minggu depan, Tiba-tiba meninggal dunia. Bahkan saya sudah datang mengambil air zam-zam nya di Kantor Kementrian Agama Polman minggu lalu,” jelasnya.

Ia menjelaskan pihak keluarga pertama kali mengetahui kabar duka tersebut dari media sosial (Facebook dan WA) kemudian berselang beberapa menit telpon dari saudara almarhum langsung dari tanah suci.

“Dia kirim fotonya almarhum yang sudah meninggal. Selama ini memang kakek memiliki riwayat penyakit jantung pasca mengalami kecelakaan lalu lintas setahun yang lalu, sering kontrol di Rumah sakit,” ujarnya.

Selama di tanah suci ia mengaku jaran berkomunikasi dengan kakeknya lantaran kakeknya tidak memiliki Handphone, Terakhir komunikasi pada hari minggu lalu sebelum meninggal dunia, saat itu kondisi almarhum masih sehat.

“Telfonan tidak tiap hari karena kakekku tidak punya HP, cuma melalui HP saudaranya yang dia temani berangkat. Minggu saya Video call dan kondisi kakek waktu itu masih sehat” ujarnya.